Dunia sedang mengalami kelaparan talenta, dan AI adalah bumbunya. Pertanyaannya, kita bisa cari bahan utamanya dari mana?
Menurut laporan IBM Global AI Adoption Index, hambatan nomor satu bagi perusahaan dalam mengadopsi AI bukanlah teknologinya, melainkan kurangnya tenaga kerja yang punya keterampilan dan keahlian di bidang AI. Di saat permintaan untuk peran berbasis AI melonjak, pelatihan yang tersedia justru berjalan stagnan.
Alhasil, dampaknya adalah bukan sekadar ketinggalan zaman. Laporan dari McKinsey Global Institute memproyeksikan bahwa kesenjangan talenta digital ini dapat menyebabkan perlambatan pemasukan perusahaan secara signifikan. Tanpa tenaga kerja yang cakap AI, produktivitas melambat dan inovasi terhenti.
Kabar baiknya, upaya kolektif mulai bermunculan. Ada inisiatif inisiatif luar biasa seperti komitmen dari perusahaan teknologi raksasa seperti Microsoft melalui program “elevAIte Indonesia” yang menargetkan 1 juta talenta, serta Google AI Essentials untuk literasi digital massal.
Investasi ini sangat krusial, tapi ada satu pertanyaan untuk kalian: bagaimana cara kalian menguasai keahlian teknis yang spesifik agar benar-benar “siap pakai” di industri? Kalian bisa saja memilih jalur tradisional seperti universitas yang memakan waktu bertahun-tahun. Tapi kalau kalian mengedepankan hasil nyata dan waktu yang efisien, FlexLabs jawabannya. Hanya dalam waktu tiga bulan di FlexLabs, kalian bisa belajar software engineering atau UI/UX design dengan kurikulum yang terintegrasi dengan AI, tapi gak bikin kalian jadi budak AI.
Siap mengakselerasi karirmu di era AI dan jadi “bahan utama” yang dicari tech industry? Batch terbaru untuk program UI/UX dan Software Engineering akan segera dibuka, loh!
Follow us for more updates ya!