Beberapa tahun terakhir, generative AI seperti Midjourney, DALL·E, atau bahkan ChatGPT jadi tools baru yang digunakan dalam workflow banyak designer. Buat sebagian orang, AI terasa seperti cheat code yang bisa bikin visual, konsep, bahkan copy dalam hitungan detik. Di sisi lain, banyak juga yang khawatir: apakah AI akan menggantikan designer?
Jawaban yang lebih realistis adalah AI tidak akan menggantikan designer, tetapi designer yang tahu cara menggunakan AI dengan efektif akan menggantikan mereka yang gak tahu caranya. Kuncinya ada di cara kita menggunakan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti kreativitas, karena AI tidak punya taste, konteks brand, atau intuisi desain seperti manusia.
Salah satu kesalahan yang cukup sering terjadi adalah menggunakan AI sebagai shortcut tanpa proses desain yang jelas, misalnya:
1. Langsung pakai output AI tanpa refinement
Ilustrasi dari AI lalu langsung dipakai untuk campaign tanpa penyesuaian style, warna brand, atau komposisi. Hasilnya mungkin visually impressive, tapi tidak konsisten dengan identitas brand.
2. Prompt yang terlalu generik
Prompt seperti “modern poster design with cool colors” hampir pasti menghasilkan sesuatu yang generik juga. Tanpa arah yang jelas, AI hanya menghasilkan visual yang terlihat seperti template.
3. Menggunakan AI untuk menggantikan thinking process
Alih-alih melakukan riset visual atau memahami target audience, designer langsung mengandalkan AI untuk “mencari ide”. Ini membuat proses desain kehilangan fondasi strategis.
Sebaliknya, AI bisa menjadi alat yang sangat powerful kalau digunakan dengan pendekatan yang tepat. Dia bisa diajak brainstorming visual direction, bikin moodboard generator, jadi ideation partner, dan mempercepat task yang repetitif.
Supaya AI benar-benar membantu workflow, ada beberapa pendekatan yang bisa dicoba.
1. Mulai dari konsep, bukan dari AI
Sebelum membuka AI tool, tentukan dulu arah desain: tujuan visual, audience, dan tone brand. AI seharusnya membantu mengeksekusi ide, bukan menciptakan ide dari nol.
2. Belajar menulis prompt yang spesifik
Semakin jelas prompt yang diberikan, semakin relevan hasil yang didapat. Misalnya dengan menyebutkan style, lighting, komposisi, atau referensi visual tertentu.
3. Gunakan AI untuk eksplorasi, bukan finalisasi
Output AI sebaiknya dianggap sebagai draft. Designer tetap perlu melakukan refinement: mengatur komposisi, warna, tipografi, dan konsistensi brand.
4. Kurasi dengan kritis
Tidak semua output AI layak dipakai. Designer tetap perlu melakukan seleksi dengan standar taste yang tinggi.
AI akan terus berkembang, dan kemungkinan besar akan menjadi bagian dari workflow kreatif di hampir semua industri. Tapi satu hal yang gak akan berubah: taste, storytelling, dan keputusan kreatif tetap datang dari manusia.
Designer yang paling relevan di masa depan adalah yang tahu kapan harus menggunakan AI, dan kapan tidak. Karena pada akhirnya, kreativitas manusia tidak bisa direplikasi AI.